Hamli tak pernah mengira, keputusannya untu menerima beasiswa pemerintah Belanda demi melanjutkan sekolah ditentang oleh orang tuanya. Oramg tua yang justru dia diharapkan akan mendukung sepenuh hati. Namun, adat minang yang mengikat erat ternyata membelenggu cita-citanya.