Ranah 3 warna adalah hikayat tentang bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup digelung nestapa tak berkesudahan. Tuhan sungguh bersama orang yang sabar.
Buya Hamka ( Haji Abdul Malik Amrullah), adalah putra Syekh Abdul Karima Amrullah, asal Maninjau., ulama minangkabau terkemuka, di awal abad 20, Ayahnya dan anak ini, karena peran penting mereka dalam ilmu islam, mendapatkan penghargaan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Cairo Mesir.
Dalam hidup ini, ada banyak sekali pertanyaan tentang perasaan yang tidak pernah terjawab. Sayangnya, novel ini juga tidak bisa memberikan jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu. Novel ini ditulis hanya untuk menyediakan pengertian yang berbeda, melalui sebuah kisah keluarga hebat di pantai yang elok. Semoga setelah membacanya, kita akan memiliki satu ruang kecil yang baru dihati, mari ki…
Dalam perjalanan itu saya bertemu dengan orang-orang yang mengajari saya, apa itu islam rahmatan lil alamin. Perjalanan yang mempertemukan saya dengan para pahlawan islam pada masa lalu. Perjalanan yang merengkuh dan mendamaikan kalbu dan keberadaan diri saya.
Andrea Hirata adalah novelis indonesia. Ia lulus cum laude dari program master, jurusan Economic Science, Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tahun 2010 Andrea mendapat beasiswa untuk belajar sastra di IWP ( International Writing Program), University of lowa, Amerika Serikat.
Laisa adalah sulung dari lima bersaudara. Dia bersumpah akan memberikan kesempatan pada adik-adiknya untuk menjadi orang-orang yang hebat. Sumpah yang membuat terang-benderang seluruh kisah ini.
Tak ada yang sempurna dikolong langit. Tidak dia, Bang Zaqi, dan pernikahan mereka. Sebuah kesempurnaan hanya boleh dilekatkan pada namaNya semata.
Apa artinya rumah jika tak lagi menjadi pelabuhan yang ramah bagi hati seorang suami? Apa jadinya surga jika ia tak lagi dirindukan? Benarkah dongeng seorang perempuan harus mati agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan?
Jakarta selama bulan-bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, adalah kota yang dicekam ketegangan. Ketegangan antara kelompok-kelompok pemuda pejuang kemerdekaan dengam berbagai kesatuan tentara jepang yang menunggu-nunggu kedatangan tentara sekutu.
Buku ini mempunyai sejarah yang menggemparkan. Ditolak oleh Balai Pustaka, ramai dipuji dan dicela, tetapi akhirnya tak urung menjadi salah satu roman klasik modern Indonesia yang mesti dibaca segala orang terpelajar Indonesia.